hukum jual beli apartemen

Hukum Jual Beli Apartemen: Antara Jual-Beli, Sewa dan Syirkah?

Posted on

Hukum Jual Beli Apartemen

Oleh : Developer Property Syariah

Apakah Anda pernah diprospek untuk membeli apartemen ?

Apakah anda pernah diajak join kerjasama menjalankan bisnis apartemen ?

Tertarik gurihnya bisnis apartemen atau membeli apartemen yang dilabeli kata syariah ?

Eittts, ntar dulu. Perhatikan sebentar tulisan berikut sebagai rambu-rambu sebelum melangkah terlampau jauh.

Salah satu bentuk ketundukan kita terhadap hukum-hukum syariah adalah memastikan status hukum perbuatan yang akan kita lakukan sebelum berbuat. Sekali lagi, pastikan dulu punya ilmunya sebelum berbuat. Boleh atau tidak. Halal atau haram. Inilah hakekat kaidah al ‘ilmu qobla ‘amal.

Celakanya, hampir semua pemain bisnis (developer, broker) apartemen saat ini, nyaris tidak ada yang mempedulikan status kehalalan berbisnis ini. Demikian pula para pembelinya. Padahal, konsekuensi kepemilikan harta sangat berat jika harta yang diperoleh terindikasi dimiliki dengan cara haram. Berat di dunia apalagi di akhirat kelak.

Akad dalam Jual Beli Apartemen

Nah, dalam jual-beli apartemen yang umumnya terjadi, ada beberapa akad yang dilakukan. Akad-akad tersebut, meliputi:

Akad istishna’: Akad ini dilakukan, ketika apartemen tersebut belum jadi, dan masih dalam rencana pembangunan. Penjual hanya memberikan deskripsi lokasi, luas bangunan, spesifikasi bangunan, termasuk interior, fasilitas umum, sarana prasarana, dan sebagainya. Pihak penjual disebut shani’ [pembuat], dan pembelinya disebut mustashni’ [minta dibuatkan].

Akad berikutnya adalah akad jual-beli [bai’] : akad ini dilakukan, ketika unit apartemen yang dijual sudah siap alias ready stok, sehingga tinggal dialihtangankan. Jika pakai skema inden, sebelum unit yang dipesan jadi, maka pemesan tidak bisa menjual pesanannya tersebut kepada pihak lain, kecuali jika diketemukan skema yang syar’i atas model transaksi seperti ini.

Akad berikutnya di dalam bisnis apartemen biasanya ada akad sewa-menyewa [ijaratu al-‘ain]: Akad ini dilakukan antara pemilik, yang tak lain adalah pembeli [ba’i’ atau mustashni’], sekaligus yang menyewakan [ajir] dengan pihak penyewa [musta’jir]. Karena pemilik memiliki hak milik sekaligus hak guna atas apartemennya, maka hak guna tersebut disewakan kepada orang lain dengan biaya sewa [ujrah] tertentu tiap bulan atau tiap tahun.

Akad terakhir yg umumnya ada dalam bisnis apartemen adalah akad syirkah atau syarikah. Tepatnya, syarikah uqud, bukan syarikah amlak. Syarikah ini dilakukan antara pemilik apartemen dengan pengelola apartemen, yang awalnya adalah pejual apartemen tersebut. Syarikah seperti ini juga boleh dilakukan, dimana status penjual apartemen tersebut merupakan pengelola [mudharib], dan pemilik apartement sebagai shahibul al-mal [pemilik modal]. Hanya saja, untuk akad yang terakhir disyaratkan, apartement tersebut dinominalkan, sehingga jelas hitungan fiksnya. Meski yang dibagi tetap hasil sewanya. Misalnya, dengan prosentase 60 persen untuk pengelola, dan 40 persen untuk pemilik.

Hanya saja, akad-akad ini wajib berdiri sendiri-sendiri. Tidak boleh dijadikan satu dalam satu akad ketika transaksi jual-beli, atau istishna’. Jika tidak, maka akan terjadi dua atau tiga akad dalam satu transaksi [shafqatain fi shafqah]. Ini tidak boleh, haram. Solusinya, akadnya harus dipisah, dan diselesaikan satu per satu secara terpisah.

Semuanya kembali kepada pemilik. Pemilik misalnya, bisa saja membeli untuk dipakai sendiri. Kemudian, ketika dia tidak membutuhkan, bisa disewakan, atau disyarikahkan untuk disewakan, sehingga dia mendapatkan kompensasi, atau keuntungan dari sewa apartemen miliknya. Dan ingat, masing-masing akad tidak boleh dipersyaratkan untuk akad yang lainnya, karena jika ini dilakukan maka transaksinya menjadi bathil.

Inilah akad-akad yang dilakukan dalam kasus bisnis apartemen. Semestinya, seorang muslim wajib terikat dengan hukum syariah yang telah diturunkan Allah, sebagai konsekuensi atas kemusliman kita. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Salam Berkah Berlimpah.

[sumber tulisan: https://www.facebook.com/mrosyidaziz/posts/1653381764712013 ]